Thursday, 21 January 2016

METODE PENELITIAN DAN PROYEK: ANALISIS PENGARUH PESAN IKLAN PRODUK BENG-BENG TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN

PENGARUH PESAN IKLAN BENG-BENG DI TELEVISI TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN DI KALANGAN MAHASISWA ADMINISTRASI NIAGA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jevi Santosa
Mahasiswa Program Studi D3 Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Bandung

Abstract
Advertising is one of the promotions that might be applied by the company in order to achieve company’s goals. Television is taken as the most effective media to provide advertisements through its audio-visual communication. PT Mayora Indah Indonesia, Tbk. uses television to advertise its products. For instance, Beng-beng products which is made creatively unique in its own way. So, to find out whether there is any influence of its messages toward consumers buying interest, this research is done by using quantitative descriptive approach. The instrument of the research is questionnaires with commerce students as the respondents and also regression analysis is used to analyze data. The result shows that the influence of advertisement message toward consumers buying interest is low due to some reason such as the advertisement which is too overrated and somewhat irrational. Being unique is not enough, the advertisement should also put good moral message to gain the consumers buying interest.
Keywords: advertising, advertisement message, buying interest, consumer behavior



Pendahuluan
Di era globalisasi ini perkembangan dunia bisnis berjalan semakin pesat. Salah satu sektor bisnis yang berkembang sangat pesat adalah industri makanan ringan. Saat ini begitu banyak produsen makanan ringan yang bermunculan di Indonesia. Industri makanan ringan pun sangat beragam, ada yang merupakan perusahaan dalam negeri dan ada pula yang merupakan perusahaan asing. Dilihat dari skala industrinya, industri makanan ringan ini sangat beragam, mulai dari industri kecil atau rumahan hingga industri besar yang menggunakan peralatan dan teknologi modern.
Tingginya persaingan tersebut menyebabkan perusahaan berusaha untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya, meraih keuntungan yang optimal, serta memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi perusahaan pesaingnya. Untuk meraih tujuan tersebut, perusahaan tidak terlepas dari kegiatan pemasaran. Hal tersebut menjadikan pemasaran sebagai salah satu kegiatan pokok dalam mencapai tujuan.
Kesuksesan dalam persaingan akan dapat dipenuhi apabila perusahaan bisa menciptakan dan mempertahankan pelanggan. Berbagai macam cara dilakukan oleh perusahaan untuk menarik minat beli dan mempertahankan konsumen, dimulai dari harga produk yang bersaing, kemasan yang menarik, hingga iklan di berbagai media seperti koran, majalah, dan televisi.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, iklan menjadi strategi promosi yang penting karena konsumen akan memerhatikan iklan dari produk yang ia beli. Fungsi iklan selain sebagai promosi juga berfungsi menginformasikan suatu produk atau jasa ataupun profit perusahaan dan sebagai media untuk mengingatkan konsumen terhadap suatu produk atau jasa.
Sebagai salah satu media iklan yang diyakini paling efektif, televisi memiliki keunggulan dalam menarik minat konsumen dengan jangkauan yang luas. Televisi merupakan media yang digunakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan berbagai usia. Oleh karena itu, penayangan iklan di televisi dapat mencapai target yang sudah ditetapkan maupun target yang belum ditetapkan sebelumnya. Selain itu, keunggulan televisi adalah bentuknya yang visual. Adanya warna dan gambar-gambar yang bergerak memberikan kesan realistis dan menjadikan tayangan di televisi terlihat seperti nyata. Hal tersebut menjadikan alasan bagi perusahaan untuk mengiklankan produknya di televisi.
Peran iklan dalam mempengaruhi penjualan seperti yang terlihat dari berbagai teknik periklanan televisi memberikan image tersendiri bagi masyarakat. Iklan yang di tayangkan media televisi membentuk pernyataan sikap konsumen yang memengaruhi minat beli konsumen. Pembentukan sikap terhadap iklan dipengaruhi oleh persepsi konsumen terhadap iklan. Oleh karena itu, perusahaan menerapkan strategi pemasaran dengan menayangkan iklan yang memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri serta berbeda dari produk pesaingnya. Salah satu strategi pemasaran melalui iklan di televisi diterapkan oleh PT. Mayora Indah Tbk. dalam memasarkan salah satu produknya yaitu Beng-beng.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, iklan produk Beng-beng ini banyak mendapatkan respon negatif dari para konsumen yang telah menyaksikan iklan produk tersebut. Sebagian besar mengatakan bahwa iklan tersebut memiliki pesan iklan yang buruk dan tidak memiliki makna yang tidak jelas di dalamnya. Namun, penayangan iklan produk Beng-beng justru membuat masyarakat banyak yang mengingat pesan iklan produk tersebut. Pesan iklan yang negatif tersebut menjadi strategi kuat yang digunakan perusahaan dalam memasarkan produknya.
Adapun permasalahan yang dapat di ambil melalui fenomena tersebut adalah “Apakah pesan iklan produk Beng-beng di televisi berpengaruh terhadap minat beli konsumen di kalangan mahasiswa Politeknik Negeri Bandung?”
Landasan Teori
Periklanan
Definisi periklanan atau advertising menurut Suhandang dalam Imasari dan Cen Lu (2010) adalah suatu proses komunikasi massa yang melibatkan sponsor tertentu, yakni si pemasang iklan, yang membayar jasa sebuah media masa atas penyiaran iklannya.
Periklanan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara non personal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran (Kotler dalam Mufarihah dan Triyono, 2013).
Pendapat lain dari Nitisemito dalam  Mufarihah dan Triyono (2013) menerangkan bahwa pengertian periklanan adalah mempengaruhi konsumen dalam bentuk tulisan, gambar, suara atau kombinasi dari semuanya itu yang diarahkan pada masyarakat secara luas dan secara tidak langsung.
Dari pengertian yang dinyatakan beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa periklanan merupakan bagian dari komunikasi yang terdiri dari berbagai kegiatan untuk memberikan informasi kepada pasar sasaran mengenai keunggulan atau keuntungan suatu produk sehingga akan memengaruhi konsumen agar membeli atau menggunakan produk yang ditawarkan perusahaan.
Fungsi Periklanan
Menurut Basu Swastha dalam Imasari dan Cen Lu (2010), adapun fungsi iklan sebagai berikut:
  1. Memberikan Informasi
Dengan adanya informasi yang jelas mengenai produk seperti harga produk, kegunaan produk. Sehingga konsumen mudah mendapat informasi tentang produk tersebut dan menimbulkan minat beli terhadap produk tersebut.
  1. Membujuk Konsumen
Pesan iklan mengandung persuasif yang berarti pesan dalam iklan harus mengandung bujukan, sehingga konsumen berniat membeli produk tersebut.
  1.  Menciptakan Kesan Iklan
Menciptakan iklan yang baik dengan menggunakan ilustrasi bentuk, warna, dan layout yang menarik. Sehingga menimbulkan kesan tertentu kepada konsumen.
  1. Memuaskan Keinginan
Memuaskan keinginan konsumen dengan cara menciptakan komunikasi yang efektif. Sebagai Alat Komunikasi, periklanan berfungsi sebagai alat komunikasi untuk membuka komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli.
Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka (Schiffman dan Kanuk dalam Winardi, 2014).
Menurut Loudon dan Bitta (dalam Sudaryana, 2011) menyatakan Perilaku konsumen didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan kegiatan individu yang terlibat dalam pemilihan, evaluasi, perolehan, penggunaan dan mendapatkan barang dan jasa.
Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan individu maupun kelompok yang berkiatan dengan proses pengambilan keputusan untuk memperoleh dan menggunakan suatu produk yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor (Sudaryana, 2011).
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen merupakan perilaku yang ditunjukkan seseorang dalam proses pengambilan keputusan untuk mendapatkan dan menggunakan produk atau jasa yang diinginkan agar kebutuhan mereka terpuaskan.
Sikap dapat dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya  akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berati bahwa untuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik dan buruk, menyenangkan dan tidak menyenangkan, positif  dan negatif, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi suatu objek.
Sikap mampu mengekspresikan image  pribadi konsumen. Sehingga para pemasang iklan senantiasa membangkitkan sikap konsumen dengan cara mempengaruhi mereka untuk  membeli prduk yang diiklankan. Kemampuan iklan untuk menciptakan sikap yang mendukung terhadap produk mungkin sering bergantung pada sikap konsumen terhadap iklan itu sendiri. Iklan yang disukai atau dievaluasi secara menguntungkan dapat menghasilkan sikap yang lebih positif terhadap produk. Iklan yang tidak disukai mungkin menurunkan evaluasi produk oleh konsumen.
Keberhasilan komunikasi persuasif akan bergantung pada sikap yang dianut oleh khalayak seseran saat ini. Perbedaan yang mendasar adalah apakah persuasi terjadi di bawah kondisi pembentukan sikap atau perubahan sikap. Jika orang yang bersangkutan masih harus mengembangkan sikap terhadap orang yang bersangkutan masih harus mengembangkan sikap terhadap topik pesan, maka dikaitkan pembentukan sikap. Perubahan sikap mencirikan background di mana seseorang memiliki sikap yang sudah ada sebelumnya yang berbeda dengan posisi yang dianjurkan pesannya.
Perbedaan ini sangat penting karrena implikasinya untuk persuasi. Secara umum komunikasi persuasif akan lebih berhasil dalam menciptakan sikap daripada merubah sikap. Perubahan sikap lebih sulit karena konsumen sudah mempunyai komitmen sikap tertentu yang sudah ada. Semakin kuat komitmen itu, semakin besar penolakannya.
Minat Beli
Minat beli konsumen adalah sesuatu yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya, dari sana timbul ketertarikan untuk mencoba produk tersebut sampai pada akhirnya tmbul keinginan untuk membeli agar dapat memilikinya (Kotler dalam Hidayat, dkk., 2012).
Sedangkan Schiffman dan Kanuk (dalam Hidayat, dkk., 2012) mengatakan bahwa minat beli adalah suatu sikap senang terhadap objek yang membuat individu berusaha untuk mendapatkan objek tersebut dengan cara membayar dengan uang atau pengorbanan.
Adapun pendapat lain menyatakan bahwa minat beli adalah suatu sikap senang yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya sehingga menimbulkan dorongan seseorang untuk membeli produk sesuai dengan kebutuhannya.
Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa minat beli adalah suatu hasrat yang ditimbulkan setelah menerima rangsangan untuk memiliki suatu produk barang atau jasa sehingga timbul dorongan untuk membeli barang yang diinginkannya tersebut. Hal ini sangat diperlukan para pemasar untuk mengetahui minat konsumen terhadap suatu merek. Apabila mereka melakukan survei konsumen, mereka dapat merasakan minat konsumen saat ini terhadap suatu produk.
Metode Penelitian
Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini diterapkan karena proses penelitian dilakukan secara terstruktur dan menggunakan sampel penelitian yang dianggap mewakili populasi yang diteliti, sehingga hasil yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan hasil yang konklusif bagi populasi darimana sampel penelitian diambil.
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan hipotesis dan bersifat memberi penjelasan terhadap objek yang diteliti (explanatory reseach). Dengan demikian, penelitian ini menyajikan penjelasan mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti. Sementara itu, data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan menggunakan instrumen kuesioner.
Unit analisis dalam penelitian ini adalah konsumen di jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Bandung. Dimensi waktu penelitian adalah cross sectional, yaitu penelitian dilangsungkan dalam waktu tertentu dengan menggunakan banyak responden.
Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada produk Beng-beng yang merupakan produk makanan ringan yang diproduksi oleh PT. Mayora Indah Tbk. Penulis memilih produk Beng-beng sebagai objek penelitian karena terdapat fenomena yang layak untuk diteliti yaitu pesan iklan produk Beng-beng yang cukup menarik perhatian masyarakat.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lingkungan mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Selain itu, observasi juga dilakukan di toko atau warung yang menjual produk Beng-beng yang terletak di lingkungan Politeknik Negeri Bandung. Sedangkan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November hingga bulan Desember tahun 2015.

Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Administrasi Niaga  Politeknik Negeri Bandung yang berusia 17 – 22 tahun serta mengetahui iklan produk Beng-beng.
Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang diambil untuk diteliti. Dalam penelitian ini, sampel yang diambil adalah 53 mahasiswa jurusan Administrasi Niaga yang terdiri dari 32 orang perempuan dan 21 orang laki-laki.
Teknik pengambilan sampling yang digunakan adalah incidental sampling yang merupakan teknik non-probability sampling. Hal tersebut dikarenakan pengambilan sampel dalam penelitian ini tidak memberikan kesempatan yang sama bagi anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel yang secara kebetulan ditemuinya yang dipandang cocok sebagai sumber data dalam penelitian yang akan diamati.
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, oleh karena itu metode pengumpulan yang digunakan oleh peneliti adalah metode angket dan observasi.
  1. Angket
Angket digunakan dalam penelitian ini karena pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan seperangkat pernyataan kepada responden untuk diisi. Pernyataan yang terdapat dalam angket bersifat tertutup karena setiap pernyataan diisi berdasarkan beberapa pilihan jawaban yang telah dicantumkand dalam angket.
  1. Observasi
Selain menggunakan angket, pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi. Melalui metode ini penulis mengumpulkan data dengan cara mengamati fenomena sosial serta mempelajari perilaku masyarakat.
Uji Validitas dan Reliabilitas
            Dalam melakukan penelitian, uji validitas dan uji reliabilitas sangat penting dilakukan untuk mengetahui bahwa data yang didapatkan terpercaya dan juga layak untuk dijadikan penelitian. Uji validitas dan reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan software SPSS.
Validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang diteliti. Dengan menggunakan uji validitas, otomatis hasil penelitian akan valid. Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Setiap item dinyatakan valid apabila nilai r > 0,3.
Selain uji validitas, dilakukan juga uji reliabilitas. Uji reliabilitas perlu dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari penelitian yang dilakukan. Pada umumnya, penelitian yang tidak pernah atau jarang dilakukan dinyatakan reliable apabila nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6. Sedangkan pada kasus penelitian ini, penelitian dapat dikatakan reliable apabila nilai Chronbach alpha lebih besar dari 0.7. Hal tersebut dikarenakan sudah banyak peneliti yang melakukan penelitian serupa.
Metode Analisis Data
Variabel penelitian ini terdiri dari satu variable independen (X) dan juga satu variabel dependen (Y). Oleh karena itu, Untuk menganalisis hubungan kausal antar variabel dan menguji hipotesis dalam penelitian ini secara sistematis, maka alat analisis yang digunakan yaitu Analisis Regresi Linier Sederhana dengan menggunakan software SPSS.
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Penyajian data karakteristik responden berguna untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik responden dalam penelitian ini. Karakteristik responden tersebut di antaranya jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, profesi, tempat tinggal, dan pengeluaran responden.
  1.  Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan data yang diperoleh dari 53 responden, terdapat sebanyak 32 orang (60,38% dari sampel) berjenis kelamin perempuan. Sisanya berjumlah 21 orang (39,62% dari sampel) berjenis kelamin laki-laki.
2.      Program Studi Responden
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Dari 53 Responden yang diteliti, ada 31 orang yang program studinya Administrasi Bisnis, ada 9 orang yang program studinya Manajemen Pemasaran, 6 orang program studinya Manajemen asset, sedangkan sisanya adalah mahasiswa program studi Usaha Perjalanan Wisata yang berjumlah 7 orang.
3.       Usia Responden
Usia responden yang diambil berkisar antara 17 – 21 tahun. Dari 53 responden terdapat 2 orang (3,8%) berusia 17 tahun, 10 orang (18,9%) berusia 18 tahun, 11 orang (24%) berusia 19 tahun, 25 orang (52,8%) berusia 20 tahun, dan 5 orang (15,1%) berusia 21 tahun.
Proporsi jenis kelami perempuan dan laki-laki yang cukup jauh ini disebabkan oleh responden yang paling banyak ditemui di lokasi penelitian adalah perempuan. Seperti yang diketahui bahwa subjek penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Jumlah mahasiswa perempuan di jurusan tersebut lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur (dalam hal ini kuesioner) melakukan fungsi ukurnya. Pengujian validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan korelasi Pearson Validity dengan cara mengorelasikan skor tiap item dengan skor total.
Berdasarkan uji validitas dapat diketahui bahwa semua indikator yang digunakan baik dalam variabel penelitian mempunyai nilai signifikansi r hitung yang lebih kecil dari 0,05. Selain itu juga bahwa kriteria validitas bias dilihat pada setiap item jika r > 0,30 maka item tersebut valid. Hal ini berarti indikator-indikator yang digunakan dalam variabel penelitian ini layak atau valid digunakan sebagai pengumpul data.
Selain uji validitas, dilakukan juga uji reliabilitas. Pengujian ini dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten. Suatu pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang jelas mudah dipahami dan memiliki interpretasi yang sama meskipun disampaikan 36
kepada responden yang berbeda dan waktu yang berlainan. Hasil pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Uji Reliabilitas
Variabel
Chronbach Alpha (α)
Keterangan
Pesan Iklan (X)
0,747
Reliabel
α > 0,7
Minat Beli (Y)
0,719

Berdasarkan tabel di atas disimpulkan bahwa semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel, karena memiliki nilai Cronbach Alpha (α) lebih besar dari 0,70.
Analisis Regresi Linier Sederhana
Pengujian regresi linear berganda berguna untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel independen (pesan iklan) terhadap variabel dependen (minat beli). Berdasarkan pengujian diperoleh hasil nilai R yang merupakan symbol dari koefisien korelasi sebesar 0,573. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan bahwa hubungan antara dua variabel penelitian ada pada kategori cukup tinggi karena nilai R lebih besar dari 0,50. Melalui hasil uji regresi juga dapat diperoleh nilai R Square atau koefisien determinasi sebesar 0,328. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) adalah sebesar 32,8%. Sedangkan sisanya (67,2%) dipengaruhi oleh faktor atau variabel yang lain.
Analisis Uji Hipotesis
Selain menggambarkan persamaan regresi output juga menampilkan uji signifikansi dengan uji t yaitu untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara variabel pesan iklan (X) dan variabel minat beli (Y). Berdasarkan uji t tersebut dapat diketahui bahwa thitung untuk variabel isi pesan lebih besar dari ttabel yaitu sebesar 4,991 > 2,007 dan tingkat probabilitas <α yaitu 0,000 < 0,05. Karena thitung lebih besar dari ttabel dan tingkat probabilitasnya lebih kecil dari 5%, maka H0 ditolak, berarti variabel pesan iklan berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen(H1diterima).
Pembahasan
Sebuah iklan di televisi semakin marak dalam merebut perhatian konsumen maka menimbulkan ketertarikan bagi sebagian perusahaan guna memuaskan berbagai pihak yang terlibat dalam aktivitas pemasaran. Berbagai macam upaya yang dilakukan untuk membuat iklan yang menarik agar dapat menarik minat beli masyarakat, contohnya seperti yang dilakukan pada produk Beng-beng.
Meskipun iklan Beng-beng di televisi cenderung merupakan iklan negatif, iklan beng-beng dikemas secara unik. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dengan sedikit sentuhan humor, iklan Beng-beng mampu menarik perhatian masyarakat sehingga muncul dorongan untuk membeli produk Beng-beng. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai R Square adalah 0,328 (32,8%). Hal tersebut menunjukkan bahwa pesan iklan produk Beng-beng berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen. Sedangkan 67,2% sisanya merupakan pengaruh dari faktor lain seperti penerapan marketing mix yang mencakup harga, produk, tempat, promosi dan faktor lainnya.
            Pengaruh variabel bebas (pesan iklan) terhadap variabel terikat (minat beli) bernilai 32,8%. Nilai tersebut menjukkan bahwa pengaruh yang diberikan cukup lemah. Hal tersebut diduga karena beberapa faktor seperti iklan Beng-beng yang kurang memberikan informasi yang jelas dan terpercaya kepada penonton. Selain itu, kecilnya pengaruh tersebut diduga karena iklan Beng-beng merupakan iklan yang negatif dilihat dari sisi penyajian iklan yang berlebihan dan tidak masuk akal.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha yang dilakukan PT. Mayora Indah Indonesia, tbk. untuk menyajikan iklan Beng-beng yang dapat menarik minat beli konsumen kurang berhasil karena iklan yang unik dan lucu saja tidak cukup. Iklan yang disajikan perlu menyampaikan informasi yang jelas dan terpercaya mengenai produk Beng-beng tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan dari analisis data dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. Hasil uji regresi menunjukkan variabel pesan iklan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen produk Beng-beng dengan nilai koefisien 0,328 (32,8%), sedangkan sisa 67,2% lainnya disebabkan oleh faktor lain.
  2. Hasil uji t menyatakan bahwa hipotesis ada pengaruh antara pesan iklan produk beng-beng terhadap minat beli konsumen diterima.
  3. Pengaruh 32,8% tersebut merupakan pengaruh yang cukup kecil, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurang jelasnya informasi yang disampaikan oleh iklan.
Saran
            Dari kesimpulan di atas, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
1.      Perlu dipertimbangkan media iklan lain disamping televisi, karena tidak semua calon konsumen mampu meluangkan seluruh waktunya untuk menonton televisi. Contohnya radio, majalah, koran dan alat-alat promosi lainnya.

2.      perusahaan harus memperhatikan keseluruhan penyajian pesan pada iklan Beng-beng baik pada desain, warna, kata-kata, kualitas suara, gerak tubuh, kejelasan informasi, isi pesan, untuk berkomunikasi yang lebih baik sehingga dapat menarik konsumen.

3.      Perusahaan diharapkan lebih meningkatkan format pesan iklan dengan menjelaskan keunggulan dan manfaat yang terpenting jika konsumen mengonsumsi produk Beng-beng sehingga dapat mengarahkan konsumen berkesimpulan positif terhadap produk Beng-beng dan pada akhirnya menimbulkan ketertarikan untuk menggunakan dan membeli produk Beng-beng.

4.      Sedangkan untuk peneliti, disarankan untuk melakukan penelitian dari variabel yang lainnya seperti cita rasa, harga, kualitas produk, merek, dll.


DAFTAR PUSTAKA

Imasari, K., & Lu, C. (2010). Pengaruh Media Periklanan Terhadap pengambilan Keputusan Siswa SMA untuk Mendaftar di Universitas Kristen Maranatha. Bisnis dan Ekonomi, 17(2), 109 - 120.

Mufarihah, H., & Triyono. (2013). dampak Periklanan Terhadap Minat Beli pada HP Samsung Galaxy. 20 - 41.

Sudaryana, A. (2011). Perilaku Konsumen dalam Berbelanja pada Supermarket di Yogyakarta. Akmenika UPY, 8, 67 - 83.