PENGARUH PESAN IKLAN BENG-BENG DI TELEVISI TERHADAP
MINAT BELI KONSUMEN DI KALANGAN MAHASISWA ADMINISTRASI NIAGA POLITEKNIK NEGERI
BANDUNG
Jevi Santosa
Mahasiswa Program Studi D3 Administrasi Bisnis
Politeknik Negeri Bandung
Abstract
Advertising is one of the promotions that might be
applied by the company in order to achieve company’s goals. Television is taken
as the most effective media to provide advertisements through its audio-visual
communication. PT Mayora Indah Indonesia, Tbk. uses television to advertise its
products. For instance, Beng-beng products which is made creatively unique in
its own way. So, to find out whether there is any influence of its messages
toward consumers buying interest, this research is done by using quantitative
descriptive approach. The instrument of the research is questionnaires with
commerce students as the respondents and also regression analysis is used to
analyze data. The result shows that the influence of advertisement message
toward consumers buying interest is low due to some reason such as the
advertisement which is too overrated and somewhat irrational. Being unique is
not enough, the advertisement should also put good moral message to gain the
consumers buying interest.
Keywords: advertising, advertisement message, buying
interest, consumer behavior
Pendahuluan
Di
era globalisasi ini perkembangan dunia bisnis berjalan semakin pesat. Salah
satu sektor bisnis yang berkembang sangat pesat adalah industri makanan ringan.
Saat ini begitu banyak produsen makanan ringan yang bermunculan di Indonesia.
Industri makanan ringan pun sangat beragam, ada yang merupakan perusahaan dalam
negeri dan ada pula yang merupakan perusahaan asing. Dilihat dari skala
industrinya, industri makanan ringan ini sangat beragam, mulai dari industri
kecil atau rumahan hingga industri besar yang menggunakan peralatan dan
teknologi modern.
Tingginya
persaingan tersebut menyebabkan perusahaan berusaha untuk mempertahankan dan
mengembangkan bisnisnya, meraih keuntungan yang optimal, serta memperkuat
posisi perusahaan dalam menghadapi perusahaan pesaingnya. Untuk meraih tujuan
tersebut, perusahaan tidak terlepas dari kegiatan pemasaran. Hal tersebut
menjadikan pemasaran sebagai salah satu kegiatan pokok dalam mencapai tujuan.
Kesuksesan
dalam persaingan akan dapat dipenuhi apabila perusahaan bisa menciptakan dan
mempertahankan pelanggan. Berbagai macam cara dilakukan oleh perusahaan untuk
menarik minat beli dan mempertahankan konsumen, dimulai dari harga produk yang
bersaing, kemasan yang menarik, hingga iklan di berbagai media seperti koran,
majalah, dan televisi.
Seiring
dengan pertumbuhan ekonomi, iklan menjadi strategi promosi yang penting karena
konsumen akan memerhatikan iklan dari produk yang ia beli. Fungsi iklan selain
sebagai promosi juga berfungsi menginformasikan suatu produk atau jasa ataupun
profit perusahaan dan sebagai media untuk mengingatkan konsumen terhadap suatu
produk atau jasa.
Sebagai
salah satu media iklan yang diyakini paling efektif, televisi memiliki
keunggulan dalam menarik minat konsumen dengan jangkauan yang luas. Televisi
merupakan media yang digunakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan
berbagai usia. Oleh karena itu, penayangan iklan di televisi dapat mencapai target
yang sudah ditetapkan maupun target yang belum ditetapkan sebelumnya. Selain
itu, keunggulan televisi adalah bentuknya yang visual. Adanya warna dan
gambar-gambar yang bergerak memberikan kesan realistis dan menjadikan tayangan
di televisi terlihat seperti nyata. Hal tersebut menjadikan alasan bagi
perusahaan untuk mengiklankan produknya di televisi.
Peran
iklan dalam mempengaruhi penjualan seperti yang terlihat dari berbagai teknik
periklanan televisi memberikan image tersendiri bagi masyarakat. Iklan yang di
tayangkan media televisi membentuk pernyataan sikap konsumen yang memengaruhi
minat beli konsumen. Pembentukan sikap terhadap iklan dipengaruhi oleh persepsi
konsumen terhadap iklan. Oleh karena itu, perusahaan menerapkan strategi
pemasaran dengan menayangkan iklan yang memiliki daya tarik dan keunikan
tersendiri serta berbeda dari produk pesaingnya. Salah satu strategi pemasaran
melalui iklan di televisi diterapkan oleh PT. Mayora Indah Tbk. dalam
memasarkan salah satu produknya yaitu Beng-beng.
Berdasarkan
hasil observasi di lapangan, iklan produk Beng-beng ini banyak mendapatkan
respon negatif dari para konsumen yang telah menyaksikan iklan produk tersebut.
Sebagian besar mengatakan bahwa iklan tersebut memiliki pesan iklan yang buruk
dan tidak memiliki makna yang tidak jelas di dalamnya. Namun, penayangan iklan
produk Beng-beng justru membuat masyarakat banyak yang mengingat pesan iklan
produk tersebut. Pesan iklan yang negatif tersebut menjadi strategi kuat yang
digunakan perusahaan dalam memasarkan produknya.
Adapun
permasalahan yang dapat di ambil melalui fenomena tersebut adalah “Apakah pesan
iklan produk Beng-beng di televisi berpengaruh terhadap minat beli konsumen di
kalangan mahasiswa Politeknik Negeri Bandung?”
Landasan Teori
Periklanan
Definisi
periklanan atau advertising menurut Suhandang dalam Imasari dan Cen Lu (2010)
adalah suatu proses komunikasi massa yang melibatkan sponsor tertentu, yakni si
pemasang iklan, yang membayar jasa sebuah media masa atas penyiaran iklannya.
Periklanan
adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara non
personal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran (Kotler dalam
Mufarihah dan Triyono, 2013).
Pendapat
lain dari Nitisemito dalam Mufarihah dan
Triyono (2013) menerangkan bahwa pengertian periklanan adalah mempengaruhi
konsumen dalam bentuk tulisan, gambar, suara atau kombinasi dari semuanya itu
yang diarahkan pada masyarakat secara luas dan secara tidak langsung.
Dari
pengertian yang dinyatakan beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
periklanan merupakan bagian dari komunikasi yang terdiri dari berbagai kegiatan
untuk memberikan informasi kepada pasar sasaran mengenai keunggulan atau
keuntungan suatu produk sehingga akan memengaruhi konsumen agar membeli atau menggunakan
produk yang ditawarkan perusahaan.
Fungsi Periklanan
Menurut
Basu Swastha dalam Imasari dan Cen Lu (2010), adapun fungsi iklan sebagai
berikut:
- Memberikan
Informasi
Dengan
adanya informasi yang jelas mengenai produk seperti harga produk, kegunaan
produk. Sehingga konsumen mudah mendapat informasi tentang produk tersebut dan
menimbulkan minat beli terhadap produk tersebut.
- Membujuk
Konsumen
Pesan
iklan mengandung persuasif yang berarti pesan dalam iklan harus mengandung
bujukan, sehingga konsumen berniat membeli produk tersebut.
- Menciptakan Kesan Iklan
Menciptakan
iklan yang baik dengan menggunakan ilustrasi bentuk, warna, dan layout yang
menarik. Sehingga menimbulkan kesan tertentu kepada konsumen.
- Memuaskan
Keinginan
Memuaskan
keinginan konsumen dengan cara menciptakan komunikasi yang efektif. Sebagai
Alat Komunikasi, periklanan berfungsi sebagai alat komunikasi untuk membuka
komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli.
Perilaku Konsumen
Perilaku
konsumen adalah perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli,
menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka
harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka (Schiffman dan Kanuk dalam Winardi,
2014).
Menurut
Loudon dan Bitta (dalam Sudaryana, 2011) menyatakan Perilaku konsumen
didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan kegiatan individu yang
terlibat dalam pemilihan, evaluasi, perolehan, penggunaan dan mendapatkan
barang dan jasa.
Sedangkan
pendapat lain menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang
dilakukan individu maupun kelompok yang berkiatan dengan proses pengambilan
keputusan untuk memperoleh dan menggunakan suatu produk yang dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor (Sudaryana, 2011).
Dari
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen merupakan
perilaku yang ditunjukkan seseorang dalam proses pengambilan keputusan untuk
mendapatkan dan menggunakan produk atau jasa yang diinginkan agar kebutuhan
mereka terpuaskan.
Sikap
dapat dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada
suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif
berati bahwa untuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari
oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap
stimulus dalam bentuk nilai baik dan buruk, menyenangkan dan tidak
menyenangkan, positif dan negatif, yang
kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi suatu objek.
Sikap
mampu mengekspresikan image pribadi konsumen. Sehingga para pemasang iklan
senantiasa membangkitkan sikap konsumen dengan cara mempengaruhi mereka
untuk membeli prduk yang diiklankan.
Kemampuan iklan untuk menciptakan sikap yang mendukung terhadap produk mungkin
sering bergantung pada sikap konsumen terhadap iklan itu sendiri. Iklan yang
disukai atau dievaluasi secara menguntungkan dapat menghasilkan sikap yang
lebih positif terhadap produk. Iklan yang tidak disukai mungkin menurunkan
evaluasi produk oleh konsumen.
Keberhasilan
komunikasi persuasif akan bergantung pada sikap yang dianut oleh khalayak
seseran saat ini. Perbedaan yang mendasar adalah apakah persuasi terjadi di
bawah kondisi pembentukan sikap atau perubahan sikap. Jika orang yang
bersangkutan masih harus mengembangkan sikap terhadap orang yang bersangkutan
masih harus mengembangkan sikap terhadap topik pesan, maka dikaitkan
pembentukan sikap. Perubahan sikap mencirikan background di mana seseorang memiliki sikap yang sudah ada
sebelumnya yang berbeda dengan posisi yang dianjurkan pesannya.
Perbedaan
ini sangat penting karrena implikasinya untuk persuasi. Secara umum komunikasi
persuasif akan lebih berhasil dalam menciptakan sikap daripada merubah sikap.
Perubahan sikap lebih sulit karena konsumen sudah mempunyai komitmen sikap
tertentu yang sudah ada. Semakin kuat komitmen itu, semakin besar penolakannya.
Minat Beli
Minat
beli konsumen adalah sesuatu yang timbul setelah menerima rangsangan dari
produk yang dilihatnya, dari sana timbul ketertarikan untuk mencoba produk
tersebut sampai pada akhirnya tmbul keinginan untuk membeli agar dapat
memilikinya (Kotler dalam Hidayat, dkk., 2012).
Sedangkan
Schiffman dan Kanuk (dalam Hidayat, dkk., 2012) mengatakan bahwa minat beli
adalah suatu sikap senang terhadap objek yang membuat individu berusaha untuk
mendapatkan objek tersebut dengan cara membayar dengan uang atau pengorbanan.
Adapun
pendapat lain menyatakan bahwa minat beli adalah suatu sikap senang yang timbul
setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya sehingga menimbulkan
dorongan seseorang untuk membeli produk sesuai dengan kebutuhannya.
Dari
beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa minat beli adalah suatu
hasrat yang ditimbulkan setelah menerima rangsangan untuk memiliki suatu produk
barang atau jasa sehingga timbul dorongan untuk membeli barang yang
diinginkannya tersebut. Hal ini sangat diperlukan para pemasar untuk mengetahui
minat konsumen terhadap suatu merek. Apabila mereka melakukan survei konsumen,
mereka dapat merasakan minat konsumen saat ini terhadap suatu produk.
Metode Penelitian
Desain Penelitian
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan
pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini diterapkan karena proses penelitian
dilakukan secara terstruktur dan menggunakan sampel penelitian yang dianggap
mewakili populasi yang diteliti, sehingga hasil yang diperoleh dalam penelitian
ini merupakan hasil yang konklusif bagi populasi darimana sampel penelitian
diambil.
Penelitian
ini dirancang dengan menggunakan hipotesis dan bersifat memberi penjelasan
terhadap objek yang diteliti (explanatory reseach). Dengan demikian,
penelitian ini menyajikan penjelasan mengenai hubungan kausal antar variabel
yang diteliti. Sementara itu, data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah
data primer yang diperoleh dengan menggunakan instrumen kuesioner.
Unit
analisis dalam penelitian ini adalah konsumen di jurusan Administrasi Niaga,
Politeknik Negeri Bandung. Dimensi waktu penelitian adalah cross sectional,
yaitu penelitian dilangsungkan dalam waktu tertentu dengan menggunakan banyak
responden.
Objek Penelitian
Penelitian
ini dilakukan pada produk Beng-beng yang merupakan produk makanan ringan yang
diproduksi oleh PT. Mayora Indah Tbk. Penulis memilih produk Beng-beng sebagai
objek penelitian karena terdapat fenomena yang layak untuk diteliti yaitu pesan
iklan produk Beng-beng yang cukup menarik perhatian masyarakat.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilakukan di lingkungan mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik
Negeri Bandung. Selain itu, observasi juga dilakukan di toko atau warung yang
menjual produk Beng-beng yang terletak di lingkungan Politeknik Negeri Bandung.
Sedangkan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November hingga bulan Desember
tahun 2015.
Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi
adalah keseluruhan obyek penelitian yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik
yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Administrasi
Niaga Politeknik Negeri Bandung yang
berusia 17 – 22 tahun serta mengetahui iklan produk Beng-beng.
Sedangkan
sampel adalah bagian dari populasi yang diambil untuk diteliti. Dalam
penelitian ini, sampel yang diambil adalah 53 mahasiswa jurusan Administrasi
Niaga yang terdiri dari 32 orang perempuan dan 21 orang laki-laki.
Teknik
pengambilan sampling yang digunakan adalah incidental
sampling yang merupakan teknik non-probability
sampling. Hal tersebut dikarenakan pengambilan sampel dalam penelitian ini
tidak memberikan kesempatan yang sama bagi anggota populasi untuk dipilih
menjadi sampel. Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel yang secara
kebetulan ditemuinya yang dipandang cocok sebagai sumber data dalam penelitian
yang akan diamati.
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif, oleh karena itu metode pengumpulan yang
digunakan oleh peneliti adalah metode angket dan observasi.
- Angket
Angket
digunakan dalam penelitian ini karena pengumpulan data dilakukan dengan cara
menyebarkan seperangkat pernyataan kepada responden untuk diisi. Pernyataan
yang terdapat dalam angket bersifat tertutup karena setiap pernyataan diisi
berdasarkan beberapa pilihan jawaban yang telah dicantumkand dalam angket.
- Observasi
Selain
menggunakan angket, pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode
observasi. Melalui metode ini penulis mengumpulkan data dengan cara mengamati
fenomena sosial serta mempelajari perilaku masyarakat.
Uji Validitas dan Reliabilitas
Dalam melakukan
penelitian, uji validitas dan uji reliabilitas sangat penting dilakukan untuk
mengetahui bahwa data yang didapatkan terpercaya dan juga layak untuk dijadikan
penelitian. Uji validitas dan reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan software SPSS.
Validitas
instrumen menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari gambaran
tentang variabel yang diteliti. Dengan menggunakan uji validitas, otomatis
hasil penelitian akan valid. Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur
apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti
secara tepat. Setiap item dinyatakan valid apabila nilai r > 0,3.
Selain
uji validitas, dilakukan juga uji reliabilitas. Uji reliabilitas perlu
dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari penelitian yang dilakukan. Pada
umumnya, penelitian yang tidak pernah atau jarang dilakukan dinyatakan reliable apabila nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6.
Sedangkan pada kasus penelitian ini, penelitian dapat dikatakan reliable apabila nilai Chronbach alpha lebih besar dari 0.7. Hal tersebut dikarenakan sudah banyak
peneliti yang melakukan penelitian serupa.
Metode Analisis Data
Variabel
penelitian ini terdiri dari satu variable independen (X) dan juga satu variabel
dependen (Y). Oleh karena itu, Untuk menganalisis hubungan kausal antar
variabel dan menguji hipotesis dalam penelitian ini secara sistematis, maka
alat analisis yang digunakan yaitu Analisis Regresi Linier Sederhana dengan
menggunakan software SPSS.
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Penyajian
data karakteristik responden berguna untuk memberikan gambaran mengenai
karakteristik responden dalam penelitian ini. Karakteristik responden tersebut
di antaranya jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, profesi, tempat tinggal,
dan pengeluaran responden.
- Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan
data yang diperoleh dari 53 responden, terdapat sebanyak 32 orang (60,38% dari
sampel) berjenis kelamin perempuan. Sisanya berjumlah 21 orang (39,62% dari
sampel) berjenis kelamin laki-laki.
2.
Program
Studi Responden
Subjek
dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Administrasi Niaga Politeknik
Negeri Bandung. Dari 53 Responden yang diteliti, ada 31 orang yang program
studinya Administrasi Bisnis, ada 9 orang yang program studinya Manajemen
Pemasaran, 6 orang program studinya Manajemen asset, sedangkan sisanya adalah
mahasiswa program studi Usaha Perjalanan Wisata yang berjumlah 7 orang.
3.
Usia Responden
Usia
responden yang diambil berkisar antara 17 – 21 tahun. Dari 53 responden
terdapat 2 orang (3,8%) berusia 17 tahun, 10 orang (18,9%) berusia 18 tahun, 11
orang (24%) berusia 19 tahun, 25 orang (52,8%) berusia 20 tahun, dan 5 orang
(15,1%) berusia 21 tahun.
Proporsi
jenis kelami perempuan dan laki-laki yang cukup jauh ini disebabkan oleh
responden yang paling banyak ditemui di lokasi penelitian adalah perempuan.
Seperti yang diketahui bahwa subjek penelitian ini adalah mahasiswa jurusan
Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Jumlah mahasiswa perempuan di
jurusan tersebut lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas
mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur (dalam hal
ini kuesioner) melakukan fungsi ukurnya. Pengujian validitas dalam penelitian
ini dilakukan dengan korelasi Pearson Validity dengan cara
mengorelasikan skor tiap item dengan skor total.
Berdasarkan
uji validitas dapat diketahui bahwa semua indikator yang digunakan baik dalam
variabel penelitian mempunyai nilai signifikansi r hitung yang lebih kecil dari
0,05. Selain itu juga bahwa kriteria validitas bias dilihat pada setiap item
jika r > 0,30 maka item tersebut valid. Hal ini berarti indikator-indikator
yang digunakan dalam variabel penelitian ini layak atau valid digunakan sebagai
pengumpul data.
Selain uji
validitas, dilakukan juga uji reliabilitas. Pengujian ini dilakukan untuk
menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten. Suatu
pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang jelas mudah dipahami dan memiliki
interpretasi yang sama meskipun disampaikan 36
kepada responden
yang berbeda dan waktu yang berlainan. Hasil pengujian reliabilitas adalah
sebagai berikut:
Tabel
1
Uji
Reliabilitas
Variabel
|
Chronbach
Alpha (α)
|
Keterangan
|
Pesan
Iklan (X)
|
0,747
|
Reliabel
α
> 0,7
|
Minat
Beli (Y)
|
0,719
|
Berdasarkan
tabel di atas disimpulkan bahwa semua variabel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah reliabel, karena memiliki nilai Cronbach Alpha (α) lebih
besar dari 0,70.
Analisis Regresi Linier Sederhana
Pengujian
regresi linear berganda berguna untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel
independen (pesan iklan) terhadap variabel dependen (minat beli). Berdasarkan
pengujian diperoleh hasil nilai R yang merupakan symbol dari koefisien korelasi
sebesar 0,573. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan bahwa hubungan antara dua
variabel penelitian ada pada kategori cukup tinggi karena nilai R lebih besar
dari 0,50. Melalui hasil uji regresi juga dapat diperoleh nilai R Square atau
koefisien determinasi sebesar 0,328. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa
pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) adalah sebesar 32,8%.
Sedangkan sisanya (67,2%) dipengaruhi oleh faktor atau variabel yang lain.
Analisis Uji Hipotesis
Selain
menggambarkan persamaan regresi output juga menampilkan uji signifikansi dengan
uji t yaitu untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara
variabel pesan iklan (X) dan variabel minat beli (Y). Berdasarkan uji t
tersebut dapat diketahui bahwa thitung untuk variabel isi pesan
lebih besar dari ttabel yaitu sebesar 4,991 > 2,007 dan tingkat probabilitas
<α yaitu 0,000 < 0,05. Karena thitung lebih besar dari ttabel
dan tingkat probabilitasnya lebih kecil dari 5%, maka H0 ditolak,
berarti variabel pesan iklan berpengaruh signifikan terhadap minat beli
konsumen(H1diterima).
Pembahasan
Sebuah
iklan di televisi semakin marak dalam merebut perhatian konsumen maka
menimbulkan ketertarikan bagi sebagian perusahaan guna memuaskan berbagai pihak
yang terlibat dalam aktivitas pemasaran. Berbagai macam upaya yang dilakukan
untuk membuat iklan yang menarik agar dapat menarik minat beli masyarakat,
contohnya seperti yang dilakukan pada produk Beng-beng.
Meskipun
iklan Beng-beng di televisi cenderung merupakan iklan negatif, iklan beng-beng
dikemas secara unik. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dengan
sedikit sentuhan humor, iklan Beng-beng mampu menarik perhatian masyarakat
sehingga muncul dorongan untuk membeli produk Beng-beng. Hal tersebut dapat
dibuktikan dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai R Square adalah
0,328 (32,8%). Hal tersebut menunjukkan bahwa pesan iklan produk Beng-beng
berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen. Sedangkan 67,2% sisanya
merupakan pengaruh dari faktor lain seperti penerapan marketing mix yang mencakup harga, produk, tempat, promosi dan faktor
lainnya.
Pengaruh variabel bebas (pesan
iklan) terhadap variabel terikat (minat beli) bernilai 32,8%. Nilai tersebut
menjukkan bahwa pengaruh yang diberikan cukup lemah. Hal tersebut diduga karena
beberapa faktor seperti iklan Beng-beng yang kurang memberikan informasi yang
jelas dan terpercaya kepada penonton. Selain itu, kecilnya pengaruh tersebut
diduga karena iklan Beng-beng merupakan iklan yang negatif dilihat dari sisi
penyajian iklan yang berlebihan dan tidak masuk akal.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa usaha yang dilakukan PT. Mayora Indah Indonesia, tbk.
untuk menyajikan iklan Beng-beng yang dapat menarik minat beli konsumen kurang
berhasil karena iklan yang unik dan lucu saja tidak cukup. Iklan yang disajikan
perlu menyampaikan informasi yang jelas dan terpercaya mengenai produk
Beng-beng tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan
dari analisis data dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
- Hasil
uji regresi menunjukkan variabel pesan iklan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap minat beli konsumen produk Beng-beng dengan nilai
koefisien 0,328 (32,8%), sedangkan sisa 67,2% lainnya disebabkan oleh
faktor lain.
- Hasil
uji t menyatakan bahwa hipotesis ada pengaruh antara pesan iklan produk
beng-beng terhadap minat beli konsumen diterima.
- Pengaruh
32,8% tersebut merupakan pengaruh yang cukup kecil, hal tersebut
disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurang jelasnya informasi yang
disampaikan oleh iklan.
Saran
Dari kesimpulan
di atas, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
1.
Perlu
dipertimbangkan media iklan lain disamping televisi, karena tidak semua calon
konsumen mampu meluangkan seluruh waktunya untuk menonton televisi. Contohnya
radio, majalah, koran dan alat-alat promosi lainnya.
2.
perusahaan
harus memperhatikan keseluruhan penyajian pesan pada iklan Beng-beng baik pada
desain, warna, kata-kata, kualitas suara, gerak tubuh, kejelasan informasi, isi
pesan, untuk berkomunikasi yang lebih baik sehingga dapat menarik konsumen.
3.
Perusahaan
diharapkan lebih meningkatkan format pesan iklan dengan menjelaskan keunggulan
dan manfaat yang terpenting jika konsumen mengonsumsi produk Beng-beng sehingga
dapat mengarahkan konsumen berkesimpulan positif terhadap produk Beng-beng dan
pada akhirnya menimbulkan ketertarikan untuk menggunakan dan membeli produk
Beng-beng.
4.
Sedangkan
untuk peneliti, disarankan untuk melakukan penelitian dari variabel yang
lainnya seperti cita rasa, harga, kualitas produk, merek, dll.
DAFTAR PUSTAKA
Imasari,
K., & Lu, C. (2010). Pengaruh Media Periklanan Terhadap pengambilan
Keputusan Siswa SMA untuk Mendaftar di Universitas Kristen Maranatha. Bisnis
dan Ekonomi, 17(2), 109 - 120.
Mufarihah,
H., & Triyono. (2013). dampak Periklanan Terhadap Minat Beli pada HP
Samsung Galaxy. 20 - 41.
Sudaryana,
A. (2011). Perilaku Konsumen dalam Berbelanja pada Supermarket di Yogyakarta. Akmenika
UPY, 8, 67 - 83.
No comments:
Post a Comment