Thursday, 21 January 2016

METODE PENELITIAN DAN PROYEK: ANALISIS PENGARUH PESAN IKLAN PRODUK BENG-BENG TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN

PENGARUH PESAN IKLAN BENG-BENG DI TELEVISI TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN DI KALANGAN MAHASISWA ADMINISTRASI NIAGA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jevi Santosa
Mahasiswa Program Studi D3 Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Bandung

Abstract
Advertising is one of the promotions that might be applied by the company in order to achieve company’s goals. Television is taken as the most effective media to provide advertisements through its audio-visual communication. PT Mayora Indah Indonesia, Tbk. uses television to advertise its products. For instance, Beng-beng products which is made creatively unique in its own way. So, to find out whether there is any influence of its messages toward consumers buying interest, this research is done by using quantitative descriptive approach. The instrument of the research is questionnaires with commerce students as the respondents and also regression analysis is used to analyze data. The result shows that the influence of advertisement message toward consumers buying interest is low due to some reason such as the advertisement which is too overrated and somewhat irrational. Being unique is not enough, the advertisement should also put good moral message to gain the consumers buying interest.
Keywords: advertising, advertisement message, buying interest, consumer behavior



Pendahuluan
Di era globalisasi ini perkembangan dunia bisnis berjalan semakin pesat. Salah satu sektor bisnis yang berkembang sangat pesat adalah industri makanan ringan. Saat ini begitu banyak produsen makanan ringan yang bermunculan di Indonesia. Industri makanan ringan pun sangat beragam, ada yang merupakan perusahaan dalam negeri dan ada pula yang merupakan perusahaan asing. Dilihat dari skala industrinya, industri makanan ringan ini sangat beragam, mulai dari industri kecil atau rumahan hingga industri besar yang menggunakan peralatan dan teknologi modern.
Tingginya persaingan tersebut menyebabkan perusahaan berusaha untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya, meraih keuntungan yang optimal, serta memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi perusahaan pesaingnya. Untuk meraih tujuan tersebut, perusahaan tidak terlepas dari kegiatan pemasaran. Hal tersebut menjadikan pemasaran sebagai salah satu kegiatan pokok dalam mencapai tujuan.
Kesuksesan dalam persaingan akan dapat dipenuhi apabila perusahaan bisa menciptakan dan mempertahankan pelanggan. Berbagai macam cara dilakukan oleh perusahaan untuk menarik minat beli dan mempertahankan konsumen, dimulai dari harga produk yang bersaing, kemasan yang menarik, hingga iklan di berbagai media seperti koran, majalah, dan televisi.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, iklan menjadi strategi promosi yang penting karena konsumen akan memerhatikan iklan dari produk yang ia beli. Fungsi iklan selain sebagai promosi juga berfungsi menginformasikan suatu produk atau jasa ataupun profit perusahaan dan sebagai media untuk mengingatkan konsumen terhadap suatu produk atau jasa.
Sebagai salah satu media iklan yang diyakini paling efektif, televisi memiliki keunggulan dalam menarik minat konsumen dengan jangkauan yang luas. Televisi merupakan media yang digunakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan berbagai usia. Oleh karena itu, penayangan iklan di televisi dapat mencapai target yang sudah ditetapkan maupun target yang belum ditetapkan sebelumnya. Selain itu, keunggulan televisi adalah bentuknya yang visual. Adanya warna dan gambar-gambar yang bergerak memberikan kesan realistis dan menjadikan tayangan di televisi terlihat seperti nyata. Hal tersebut menjadikan alasan bagi perusahaan untuk mengiklankan produknya di televisi.
Peran iklan dalam mempengaruhi penjualan seperti yang terlihat dari berbagai teknik periklanan televisi memberikan image tersendiri bagi masyarakat. Iklan yang di tayangkan media televisi membentuk pernyataan sikap konsumen yang memengaruhi minat beli konsumen. Pembentukan sikap terhadap iklan dipengaruhi oleh persepsi konsumen terhadap iklan. Oleh karena itu, perusahaan menerapkan strategi pemasaran dengan menayangkan iklan yang memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri serta berbeda dari produk pesaingnya. Salah satu strategi pemasaran melalui iklan di televisi diterapkan oleh PT. Mayora Indah Tbk. dalam memasarkan salah satu produknya yaitu Beng-beng.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, iklan produk Beng-beng ini banyak mendapatkan respon negatif dari para konsumen yang telah menyaksikan iklan produk tersebut. Sebagian besar mengatakan bahwa iklan tersebut memiliki pesan iklan yang buruk dan tidak memiliki makna yang tidak jelas di dalamnya. Namun, penayangan iklan produk Beng-beng justru membuat masyarakat banyak yang mengingat pesan iklan produk tersebut. Pesan iklan yang negatif tersebut menjadi strategi kuat yang digunakan perusahaan dalam memasarkan produknya.
Adapun permasalahan yang dapat di ambil melalui fenomena tersebut adalah “Apakah pesan iklan produk Beng-beng di televisi berpengaruh terhadap minat beli konsumen di kalangan mahasiswa Politeknik Negeri Bandung?”
Landasan Teori
Periklanan
Definisi periklanan atau advertising menurut Suhandang dalam Imasari dan Cen Lu (2010) adalah suatu proses komunikasi massa yang melibatkan sponsor tertentu, yakni si pemasang iklan, yang membayar jasa sebuah media masa atas penyiaran iklannya.
Periklanan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara non personal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran (Kotler dalam Mufarihah dan Triyono, 2013).
Pendapat lain dari Nitisemito dalam  Mufarihah dan Triyono (2013) menerangkan bahwa pengertian periklanan adalah mempengaruhi konsumen dalam bentuk tulisan, gambar, suara atau kombinasi dari semuanya itu yang diarahkan pada masyarakat secara luas dan secara tidak langsung.
Dari pengertian yang dinyatakan beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa periklanan merupakan bagian dari komunikasi yang terdiri dari berbagai kegiatan untuk memberikan informasi kepada pasar sasaran mengenai keunggulan atau keuntungan suatu produk sehingga akan memengaruhi konsumen agar membeli atau menggunakan produk yang ditawarkan perusahaan.
Fungsi Periklanan
Menurut Basu Swastha dalam Imasari dan Cen Lu (2010), adapun fungsi iklan sebagai berikut:
  1. Memberikan Informasi
Dengan adanya informasi yang jelas mengenai produk seperti harga produk, kegunaan produk. Sehingga konsumen mudah mendapat informasi tentang produk tersebut dan menimbulkan minat beli terhadap produk tersebut.
  1. Membujuk Konsumen
Pesan iklan mengandung persuasif yang berarti pesan dalam iklan harus mengandung bujukan, sehingga konsumen berniat membeli produk tersebut.
  1.  Menciptakan Kesan Iklan
Menciptakan iklan yang baik dengan menggunakan ilustrasi bentuk, warna, dan layout yang menarik. Sehingga menimbulkan kesan tertentu kepada konsumen.
  1. Memuaskan Keinginan
Memuaskan keinginan konsumen dengan cara menciptakan komunikasi yang efektif. Sebagai Alat Komunikasi, periklanan berfungsi sebagai alat komunikasi untuk membuka komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli.
Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka (Schiffman dan Kanuk dalam Winardi, 2014).
Menurut Loudon dan Bitta (dalam Sudaryana, 2011) menyatakan Perilaku konsumen didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan kegiatan individu yang terlibat dalam pemilihan, evaluasi, perolehan, penggunaan dan mendapatkan barang dan jasa.
Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan individu maupun kelompok yang berkiatan dengan proses pengambilan keputusan untuk memperoleh dan menggunakan suatu produk yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor (Sudaryana, 2011).
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen merupakan perilaku yang ditunjukkan seseorang dalam proses pengambilan keputusan untuk mendapatkan dan menggunakan produk atau jasa yang diinginkan agar kebutuhan mereka terpuaskan.
Sikap dapat dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya  akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berati bahwa untuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik dan buruk, menyenangkan dan tidak menyenangkan, positif  dan negatif, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi suatu objek.
Sikap mampu mengekspresikan image  pribadi konsumen. Sehingga para pemasang iklan senantiasa membangkitkan sikap konsumen dengan cara mempengaruhi mereka untuk  membeli prduk yang diiklankan. Kemampuan iklan untuk menciptakan sikap yang mendukung terhadap produk mungkin sering bergantung pada sikap konsumen terhadap iklan itu sendiri. Iklan yang disukai atau dievaluasi secara menguntungkan dapat menghasilkan sikap yang lebih positif terhadap produk. Iklan yang tidak disukai mungkin menurunkan evaluasi produk oleh konsumen.
Keberhasilan komunikasi persuasif akan bergantung pada sikap yang dianut oleh khalayak seseran saat ini. Perbedaan yang mendasar adalah apakah persuasi terjadi di bawah kondisi pembentukan sikap atau perubahan sikap. Jika orang yang bersangkutan masih harus mengembangkan sikap terhadap orang yang bersangkutan masih harus mengembangkan sikap terhadap topik pesan, maka dikaitkan pembentukan sikap. Perubahan sikap mencirikan background di mana seseorang memiliki sikap yang sudah ada sebelumnya yang berbeda dengan posisi yang dianjurkan pesannya.
Perbedaan ini sangat penting karrena implikasinya untuk persuasi. Secara umum komunikasi persuasif akan lebih berhasil dalam menciptakan sikap daripada merubah sikap. Perubahan sikap lebih sulit karena konsumen sudah mempunyai komitmen sikap tertentu yang sudah ada. Semakin kuat komitmen itu, semakin besar penolakannya.
Minat Beli
Minat beli konsumen adalah sesuatu yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya, dari sana timbul ketertarikan untuk mencoba produk tersebut sampai pada akhirnya tmbul keinginan untuk membeli agar dapat memilikinya (Kotler dalam Hidayat, dkk., 2012).
Sedangkan Schiffman dan Kanuk (dalam Hidayat, dkk., 2012) mengatakan bahwa minat beli adalah suatu sikap senang terhadap objek yang membuat individu berusaha untuk mendapatkan objek tersebut dengan cara membayar dengan uang atau pengorbanan.
Adapun pendapat lain menyatakan bahwa minat beli adalah suatu sikap senang yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya sehingga menimbulkan dorongan seseorang untuk membeli produk sesuai dengan kebutuhannya.
Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa minat beli adalah suatu hasrat yang ditimbulkan setelah menerima rangsangan untuk memiliki suatu produk barang atau jasa sehingga timbul dorongan untuk membeli barang yang diinginkannya tersebut. Hal ini sangat diperlukan para pemasar untuk mengetahui minat konsumen terhadap suatu merek. Apabila mereka melakukan survei konsumen, mereka dapat merasakan minat konsumen saat ini terhadap suatu produk.
Metode Penelitian
Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini diterapkan karena proses penelitian dilakukan secara terstruktur dan menggunakan sampel penelitian yang dianggap mewakili populasi yang diteliti, sehingga hasil yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan hasil yang konklusif bagi populasi darimana sampel penelitian diambil.
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan hipotesis dan bersifat memberi penjelasan terhadap objek yang diteliti (explanatory reseach). Dengan demikian, penelitian ini menyajikan penjelasan mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti. Sementara itu, data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan menggunakan instrumen kuesioner.
Unit analisis dalam penelitian ini adalah konsumen di jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Bandung. Dimensi waktu penelitian adalah cross sectional, yaitu penelitian dilangsungkan dalam waktu tertentu dengan menggunakan banyak responden.
Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada produk Beng-beng yang merupakan produk makanan ringan yang diproduksi oleh PT. Mayora Indah Tbk. Penulis memilih produk Beng-beng sebagai objek penelitian karena terdapat fenomena yang layak untuk diteliti yaitu pesan iklan produk Beng-beng yang cukup menarik perhatian masyarakat.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lingkungan mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Selain itu, observasi juga dilakukan di toko atau warung yang menjual produk Beng-beng yang terletak di lingkungan Politeknik Negeri Bandung. Sedangkan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November hingga bulan Desember tahun 2015.

Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Administrasi Niaga  Politeknik Negeri Bandung yang berusia 17 – 22 tahun serta mengetahui iklan produk Beng-beng.
Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang diambil untuk diteliti. Dalam penelitian ini, sampel yang diambil adalah 53 mahasiswa jurusan Administrasi Niaga yang terdiri dari 32 orang perempuan dan 21 orang laki-laki.
Teknik pengambilan sampling yang digunakan adalah incidental sampling yang merupakan teknik non-probability sampling. Hal tersebut dikarenakan pengambilan sampel dalam penelitian ini tidak memberikan kesempatan yang sama bagi anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel yang secara kebetulan ditemuinya yang dipandang cocok sebagai sumber data dalam penelitian yang akan diamati.
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, oleh karena itu metode pengumpulan yang digunakan oleh peneliti adalah metode angket dan observasi.
  1. Angket
Angket digunakan dalam penelitian ini karena pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan seperangkat pernyataan kepada responden untuk diisi. Pernyataan yang terdapat dalam angket bersifat tertutup karena setiap pernyataan diisi berdasarkan beberapa pilihan jawaban yang telah dicantumkand dalam angket.
  1. Observasi
Selain menggunakan angket, pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi. Melalui metode ini penulis mengumpulkan data dengan cara mengamati fenomena sosial serta mempelajari perilaku masyarakat.
Uji Validitas dan Reliabilitas
            Dalam melakukan penelitian, uji validitas dan uji reliabilitas sangat penting dilakukan untuk mengetahui bahwa data yang didapatkan terpercaya dan juga layak untuk dijadikan penelitian. Uji validitas dan reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan software SPSS.
Validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang diteliti. Dengan menggunakan uji validitas, otomatis hasil penelitian akan valid. Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Setiap item dinyatakan valid apabila nilai r > 0,3.
Selain uji validitas, dilakukan juga uji reliabilitas. Uji reliabilitas perlu dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari penelitian yang dilakukan. Pada umumnya, penelitian yang tidak pernah atau jarang dilakukan dinyatakan reliable apabila nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6. Sedangkan pada kasus penelitian ini, penelitian dapat dikatakan reliable apabila nilai Chronbach alpha lebih besar dari 0.7. Hal tersebut dikarenakan sudah banyak peneliti yang melakukan penelitian serupa.
Metode Analisis Data
Variabel penelitian ini terdiri dari satu variable independen (X) dan juga satu variabel dependen (Y). Oleh karena itu, Untuk menganalisis hubungan kausal antar variabel dan menguji hipotesis dalam penelitian ini secara sistematis, maka alat analisis yang digunakan yaitu Analisis Regresi Linier Sederhana dengan menggunakan software SPSS.
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Penyajian data karakteristik responden berguna untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik responden dalam penelitian ini. Karakteristik responden tersebut di antaranya jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, profesi, tempat tinggal, dan pengeluaran responden.
  1.  Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan data yang diperoleh dari 53 responden, terdapat sebanyak 32 orang (60,38% dari sampel) berjenis kelamin perempuan. Sisanya berjumlah 21 orang (39,62% dari sampel) berjenis kelamin laki-laki.
2.      Program Studi Responden
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Dari 53 Responden yang diteliti, ada 31 orang yang program studinya Administrasi Bisnis, ada 9 orang yang program studinya Manajemen Pemasaran, 6 orang program studinya Manajemen asset, sedangkan sisanya adalah mahasiswa program studi Usaha Perjalanan Wisata yang berjumlah 7 orang.
3.       Usia Responden
Usia responden yang diambil berkisar antara 17 – 21 tahun. Dari 53 responden terdapat 2 orang (3,8%) berusia 17 tahun, 10 orang (18,9%) berusia 18 tahun, 11 orang (24%) berusia 19 tahun, 25 orang (52,8%) berusia 20 tahun, dan 5 orang (15,1%) berusia 21 tahun.
Proporsi jenis kelami perempuan dan laki-laki yang cukup jauh ini disebabkan oleh responden yang paling banyak ditemui di lokasi penelitian adalah perempuan. Seperti yang diketahui bahwa subjek penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Jumlah mahasiswa perempuan di jurusan tersebut lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur (dalam hal ini kuesioner) melakukan fungsi ukurnya. Pengujian validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan korelasi Pearson Validity dengan cara mengorelasikan skor tiap item dengan skor total.
Berdasarkan uji validitas dapat diketahui bahwa semua indikator yang digunakan baik dalam variabel penelitian mempunyai nilai signifikansi r hitung yang lebih kecil dari 0,05. Selain itu juga bahwa kriteria validitas bias dilihat pada setiap item jika r > 0,30 maka item tersebut valid. Hal ini berarti indikator-indikator yang digunakan dalam variabel penelitian ini layak atau valid digunakan sebagai pengumpul data.
Selain uji validitas, dilakukan juga uji reliabilitas. Pengujian ini dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten. Suatu pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang jelas mudah dipahami dan memiliki interpretasi yang sama meskipun disampaikan 36
kepada responden yang berbeda dan waktu yang berlainan. Hasil pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Uji Reliabilitas
Variabel
Chronbach Alpha (α)
Keterangan
Pesan Iklan (X)
0,747
Reliabel
α > 0,7
Minat Beli (Y)
0,719

Berdasarkan tabel di atas disimpulkan bahwa semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel, karena memiliki nilai Cronbach Alpha (α) lebih besar dari 0,70.
Analisis Regresi Linier Sederhana
Pengujian regresi linear berganda berguna untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel independen (pesan iklan) terhadap variabel dependen (minat beli). Berdasarkan pengujian diperoleh hasil nilai R yang merupakan symbol dari koefisien korelasi sebesar 0,573. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan bahwa hubungan antara dua variabel penelitian ada pada kategori cukup tinggi karena nilai R lebih besar dari 0,50. Melalui hasil uji regresi juga dapat diperoleh nilai R Square atau koefisien determinasi sebesar 0,328. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) adalah sebesar 32,8%. Sedangkan sisanya (67,2%) dipengaruhi oleh faktor atau variabel yang lain.
Analisis Uji Hipotesis
Selain menggambarkan persamaan regresi output juga menampilkan uji signifikansi dengan uji t yaitu untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara variabel pesan iklan (X) dan variabel minat beli (Y). Berdasarkan uji t tersebut dapat diketahui bahwa thitung untuk variabel isi pesan lebih besar dari ttabel yaitu sebesar 4,991 > 2,007 dan tingkat probabilitas <α yaitu 0,000 < 0,05. Karena thitung lebih besar dari ttabel dan tingkat probabilitasnya lebih kecil dari 5%, maka H0 ditolak, berarti variabel pesan iklan berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen(H1diterima).
Pembahasan
Sebuah iklan di televisi semakin marak dalam merebut perhatian konsumen maka menimbulkan ketertarikan bagi sebagian perusahaan guna memuaskan berbagai pihak yang terlibat dalam aktivitas pemasaran. Berbagai macam upaya yang dilakukan untuk membuat iklan yang menarik agar dapat menarik minat beli masyarakat, contohnya seperti yang dilakukan pada produk Beng-beng.
Meskipun iklan Beng-beng di televisi cenderung merupakan iklan negatif, iklan beng-beng dikemas secara unik. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dengan sedikit sentuhan humor, iklan Beng-beng mampu menarik perhatian masyarakat sehingga muncul dorongan untuk membeli produk Beng-beng. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai R Square adalah 0,328 (32,8%). Hal tersebut menunjukkan bahwa pesan iklan produk Beng-beng berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen. Sedangkan 67,2% sisanya merupakan pengaruh dari faktor lain seperti penerapan marketing mix yang mencakup harga, produk, tempat, promosi dan faktor lainnya.
            Pengaruh variabel bebas (pesan iklan) terhadap variabel terikat (minat beli) bernilai 32,8%. Nilai tersebut menjukkan bahwa pengaruh yang diberikan cukup lemah. Hal tersebut diduga karena beberapa faktor seperti iklan Beng-beng yang kurang memberikan informasi yang jelas dan terpercaya kepada penonton. Selain itu, kecilnya pengaruh tersebut diduga karena iklan Beng-beng merupakan iklan yang negatif dilihat dari sisi penyajian iklan yang berlebihan dan tidak masuk akal.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha yang dilakukan PT. Mayora Indah Indonesia, tbk. untuk menyajikan iklan Beng-beng yang dapat menarik minat beli konsumen kurang berhasil karena iklan yang unik dan lucu saja tidak cukup. Iklan yang disajikan perlu menyampaikan informasi yang jelas dan terpercaya mengenai produk Beng-beng tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan dari analisis data dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. Hasil uji regresi menunjukkan variabel pesan iklan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen produk Beng-beng dengan nilai koefisien 0,328 (32,8%), sedangkan sisa 67,2% lainnya disebabkan oleh faktor lain.
  2. Hasil uji t menyatakan bahwa hipotesis ada pengaruh antara pesan iklan produk beng-beng terhadap minat beli konsumen diterima.
  3. Pengaruh 32,8% tersebut merupakan pengaruh yang cukup kecil, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurang jelasnya informasi yang disampaikan oleh iklan.
Saran
            Dari kesimpulan di atas, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
1.      Perlu dipertimbangkan media iklan lain disamping televisi, karena tidak semua calon konsumen mampu meluangkan seluruh waktunya untuk menonton televisi. Contohnya radio, majalah, koran dan alat-alat promosi lainnya.

2.      perusahaan harus memperhatikan keseluruhan penyajian pesan pada iklan Beng-beng baik pada desain, warna, kata-kata, kualitas suara, gerak tubuh, kejelasan informasi, isi pesan, untuk berkomunikasi yang lebih baik sehingga dapat menarik konsumen.

3.      Perusahaan diharapkan lebih meningkatkan format pesan iklan dengan menjelaskan keunggulan dan manfaat yang terpenting jika konsumen mengonsumsi produk Beng-beng sehingga dapat mengarahkan konsumen berkesimpulan positif terhadap produk Beng-beng dan pada akhirnya menimbulkan ketertarikan untuk menggunakan dan membeli produk Beng-beng.

4.      Sedangkan untuk peneliti, disarankan untuk melakukan penelitian dari variabel yang lainnya seperti cita rasa, harga, kualitas produk, merek, dll.


DAFTAR PUSTAKA

Imasari, K., & Lu, C. (2010). Pengaruh Media Periklanan Terhadap pengambilan Keputusan Siswa SMA untuk Mendaftar di Universitas Kristen Maranatha. Bisnis dan Ekonomi, 17(2), 109 - 120.

Mufarihah, H., & Triyono. (2013). dampak Periklanan Terhadap Minat Beli pada HP Samsung Galaxy. 20 - 41.

Sudaryana, A. (2011). Perilaku Konsumen dalam Berbelanja pada Supermarket di Yogyakarta. Akmenika UPY, 8, 67 - 83.





Thursday, 2 July 2015

JURNAL MANAJEMEN KANTOR

Manajer Kantor dan Supervisor: Tugas dan Persyaratannya
Jevi Jamilatul Fahmi Santosa
Mahasiswa Program Studi D3 Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Bandung

Abstract

Manager is a person who has huge role in company management. A manager is a person who manages or is in charge of something. Managers can control departments in companies, or guide the people who work for them. Managers also have to make decisions about things. Meanwhile supervisor is a person who has the power and authority to do some actions such as giving instruction and orders to subordinates. Supervisor is also responsible for works and actions of other employees. In this journal is explained about the qualifications that is needed by managers and supervisors. Beside that there is also an explanation about the things that they should do. To be good manager and supervisor that can do their own jobs well, they shoul have some exact qualifications. So the process of management can effectively and efficiently works.

Keywords: Manager, Supervisor, Qualification, and Job Description




Pendahuluan
Pada era modern ini dunia bisnis dihadapkan pada suatu proses perubahan yang begitu cepat dan rumit. Untuk itu, perubahan yang dinamis dalam berbagai hal sangat dibutuhkan seperti visi, misi, tujuan dan juga sistem berpikir. Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, setiap individu harus memiliki komitmen dan kapasitas untuk terus belajar pada setiap tingkat apapun.
Di zaman sekarang ini hampir tidak mungkin kebutuhan hidup manusia dapat diperoleh sendiri tanpa bantuan orang lain dan sarana pendukung. Dalam mencapai tujuan, penting bagi manusia untuk memrhatikan kerja sama dengan manusia lain dan sarana pendukungnya.
Dengan mengerti manajemen manusia secara rasional akan bertindak secara efektif dan efisien. Melalui manajemen manusia akan saling mengerti kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk itu sebuah organisasi atau perusahaan harus memiliki sebuah sistem manajemen yang baik. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, peran manajer sangatlah penting.
Manajer merupakan orang yang bertanggung jawab atas berjalannya manajemen perusahaan. Fungsi manajer lebih sebagai peneliti dan sekaligus perancang ketimbang hanya sebagai penyelia. Seorang manajer harus melakukan kajian-kajian untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru dan menyampaikan gagasan tersebut kepada bawahannya.
Kecenderungan manajer dan pemimpin agar dapat mengemukakan isu kepemimpinan dipicu oleh dunia perusahaan yang sebagian besar tidak lagi menggunakan prinsip manajemen memerintah dan mengontrol. Manajer tradisional sering kali memerintah orang untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Sedangkan seorang manajer pada era globalisasi ini adalah seseorang yang mampu membuat orang lain melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dan bahkan lebih dengan sedikit petunjuk dan tingkat efisiensi yang lebih tinggi.
Selain manajer, supervisor juga berperan penting dalam melaksanakan manajemen perusahaan. Supervisor merupakan bagian dari manajemen yang bertugas untuk melakukan pengawasan. Kata “pengawasan” sering mempunyai konotasi yang tidak menyenangkan karena dianggap akan mengancam kebebasan dan otonomi pribadi. Padahal organisasi sangat memerlukan pengawasan untuk menjamin tercapainya tujuan.
Untuk itu, seorang supervisor harus bisa menemukan keseimbangan antara pengawasan perusahaan dan kebebasan pribadi atau mencari tingkat pengawasan yang tepat. Pengawasan yang berlebihan akan menimbulkan birokrasi, mematikan kreativitas, dan sebagainya yang akhirnya dapat merugikan perusahaan. Sebaliknya pengawasan yang tidak mencukupi dapat menimbulkan pemborosan sumber daya dan membuat sulit pencapaian tujuan.
Agar suatu manajemen di dalam perusahaan dapat berjalan dengan efektif dan efisien maka potensi sumber daya manusia sangat diperlukan. Untuk itu, dalam memilih manajer dan supervisor tidak bisa sembarangan karena perusahaan membutuhkan persyaratan dan kualifikasi khusus dalam memilih manajer dan supervisor yang tepat.
Pengertian Manajer
Manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan dalam suatu organisasi yang dilakukan dengan sistematis untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau perusahaan.  Tentunya dalam menjalankan proses tersebut tidak terlepas dari peran seorang manajer.
Garnida dan Priansa (2013) menyatakan bahwa manajer adalah seorang yang memiliki tanggung jawab terhadap seluruh bagian dalam kegiatan organisasi. Sementara itu, Siswandi (2011) mengatakan bahwa manajer merupakan manusia yang melakukan atau melaksanakan semua fungsi manajemen yang diarahkan kepada pencapaian tujuan organisasi.
Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajer adalah seseorang yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakan fungsi manajemen dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi.
Manajer dibagi menjadi dua jenis yaitu manajer fungsional dan manajer umum. Manajer fungsional adalah manajer yang hanya bertanggung jawab pada satu bagian fungsional perusahaan dan tidak ikut campur dalam pekerjaan fungsional bagian lain. Sedangkan manajer umum adalah manajer yang bertanggung jawab atas seluruh bagian fungsional perusahaan.
Tinggkatan Manajer
Dalam sebuah perusahaan berskala kecil, satu orang manajer saja mungkin sudah cukup. Namun dalam perusahaan yang besar biasanya memiliki beberapa manajer yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Dalam organisasi tradisional manajer dikelompokkan ke dalam beberapa bagian yang digambarkan dengan bentuk piramida, di mana jumlah manajer lebih banyak di bagian bawah daripada puncak. Beriku ini merupakan tingkatan  manajer yang sering dikenali:
1.      Manajemen Puncak (Top Management)
Manajer tingkat atas ini bertanggung jawab penuh terhadap perusahaan. Tugas dari manajer pada tingkat ini adalah menentukan strategi, tujuan, dan kebijakan secara umum. Mereka juga biasanya menentukan keputusan-keputusan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Manajemen puncak juga biasanya disebut sebagai executive officer. Contoh dari manajer tingkat atas adalah Chief Executive Officer (CEO).
2.      Manajemen Menengah (Middle Management)
Jumlah manajer tingkat menengah lebih besar dibanding manajer tingkat atas. Manajer tingkat menengah merupakan perantara antara manajer tingkat atas dan tingkat bawah. Tugas manajer pada tingkat menengah ini adalah menerjemahkan dan melaksanakan tujuan, strategi dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh manajer puncak. Selain itu, tugas mereka juga adalah mengoordinasikan dan mengarahkan kegiatan manajer tingkat bawah dan karyawan operasional. Contoh manajer tingkat menengah adalah manajer keuangan, manajer pemasaran, manajer personalia, dan lain-lain.
3.      Manajemen Tingkat Bawah (First-Line Management)
Manajer tingkat bawah adalah manajer yang melakukan pengawasan langsaung terhadap pegawai yang melakukan kegiatan operasional. Biasanya manajer tingkat bawah ini juga disebut sebagai supervisor.
Meskipun demikian, tidak semua perusahaan menerapkan bentuk piramida ini. Misalnya pada beberpa perusahan yang lebih fleksibel dan juga sederhana, dengan tipe pekerjaan yang dapat berubah-ubah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Keahlian Manajer
Agar seorang manajer dapat melakukan tugas-tugasnya dengan baik maka diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dimiliki oleh seorang manajer. Terry dalam Chaniago (2013) menyebutkan 12 daftar persyaratan umum yang harus dimiliki oleh manajer kantor:
1.      Executive ability (kemampuan dalam menjabat sebagai seorang pemimpin).
2.      A practical background (memiliki pengalaman dalam praktek).
3.      Managerial training (pernah melakukan latihan manajerial).
4.      Ability to express oneself (memiliki kemampuan untuk mengekspresikan dirinya sendiri).
5.      An open attitude (bersikap atau berperilaku terbuka).
6.      Curiousity (Memiliki rasa keingintahuan).
7.      Creativity (memiliki kreativitas).
8.      Sound judgement (dapat memberikan pertimbangan yang sehat).
9.      Sales ability (memiliki kemampuan untuk menjual atau mengungkapkan gagasan-gagasan yang cemerlang).
10.  Patience (memiliki kesabaran).
11.  Emotional control (dapat mengendalikan emosi).
12.  Co-operative (dapat bekerja sama dengan baik).
Selain persyratan-persyaratan di atas, dalam mengelola sebuah perusahaan, seorang manajer membutuhkan keahlian yang berkaitan dengan manajemen dan juga mampu meningkatkan kualitas kinerja manajemen. Keahlian-keahlian yang harus dimiliki manajer adalah sebagai berikut:
1.      Keahlian Teknik (Technical Skill)
Keterampilan ini merupakan keterampilan yang minimal harus dimiliki oleh manajer tingkat bawah. Keterampilan teknis adalah keterampilan untuk menjalankan suatu kegiatan tertentu dan juga menggunakan berbagai peralatan, prosedur, atau teknik dalam bidang tertentu.
2.      Keahlian Manusiawi (Humanity Skill)
Setiap manajer harus memiliki kemampuan untuk dapat memahami karakteristik orang lain dan juga mengetahui potensi yang dimiliki oleh orang lain. Selain itu, manajer juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Dengan memiliki komunikasi yang baik juga maka akan membuat rekan kerja merasa dihargai. Keahlian ini juga sangat penting dimiliki oleh semua manajer, terutama manajer menengah karena manajer pada tingkat menengah langsung berhubungan dengan manajer tingkat atas dan bawah.
3.      Keahlian Konseptual (Conseptual Skill)
Seorang manajer tingkat atas harus mempunyai keahlian untuk membuat suatu konsep, ide, dan gagasan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Kemudian konsep dan gagasan tersebut diuraikan menjadi suatu bentuk rencana kerja yang kongkret. Keahlian ini sering disebut sebagai keahlian untuk membentuk suatu perencanaan kerja.
4.      Keahlian Strategi (Strategic Skill)
Keahlian ini perlu dimiliki manajer untuk melihat hal-hal yang akan memengaruhi kesuksesan atau kegagalan perusahaan. Selain itu, manajer juga dituntut untuk mengantisipasi kejadian-kejadian sedini mungkin, baik eksternal maupun internal, yang mungkin terjadi.
Selain keahlian-keahlian di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua keahlian yang perlu dimiliki oleh seorang manajer, antara lain:
1.      Keahlian Manajemen Waktu
Memiliki keahlian mengatur waktu sangat diperlukan bagi seorang manajer. Seorang manajer harus bisa menggunakan waktu yang dimilikinya dengan bijaksana dan efektif. Waktu merupakan hal yang sangat berhaga, menyia-nyiakan waktu berarti merugikan perusahaan dan mengurangi produktivitas kerja.
2.      Keahlian Membuat Keputusan
Keahlian ini merupakan keahlian mengidentifikasi masalah dan menganalisisnya untuk kemudian ditentukan cara paling baik untuk menyelesaikannya. Keahlian ini sangat penting untuk dimiliki oleh setiap manajer, terutama manajer tingkat atas.
Etika Manajer
Manajer tentu sering dihadapkan dengan kesulitan untuk menentukan sebuah keputusan. Selain itu, manajer juga dihadapkan dengan konflik nilai dan kepentingan di antara pihak yang sedang bertentangan. Saat dihadapkan dengan kondisi seperti itu, manajer dituntut untuk memahami prinsip moral universal dan berpegang teguh pada hal tersebut. Berikut ini merupakan etika manajerial yang telah diklasifikasikan ke dalam tiga kategori:
1.      Perilaku Terhadap Karyawan
Klasifikasi ini berkaitan dengan perekrutan, pemecatan, kondisi upah dan juga kerja serta ruang pribadi dan penghormatan. Pedoman etis dan hukum menyatakan bahwa keputusan untuk merekrut dan memecat harus berdasarkan pada kemampuan seorang pegawai dalam melakukan pekerjaannya.
2.      Perilaku Terhadap Organisasi
Masalah etika juga berkaitan dengan hubungan antara pekerja dan perusahaan. Masalah ini berkenaan dengan integritas, konflik kepentingan, dan kerahasiaan. Seorang manajer atau pegawai lainnya tidak boleh melakukan suatu hal yang menguntungkan dirinya sendiri namun merugikan perusahaan. Selain itu, pekerja juga harus bisa berkomitmen untuk menjaga rahasia perusahaan.
3.      Perilaku Terhadap Agen Ekonomi Lainnya
Seorang manajer juga tentu harus menjunjun dan melaksanakan etika ketika berhubungan dengan agen ekonomi lainnya seperti pelanggan, pemegang saham, distributor dan buruh.
Tugas Manajer
Berikut ini merupakan tugas-tugas utama manajer yang dijabarkan secara singkat:
1.      Menetapkan sasaran, termasuk tujuan dari sasaran tersebut, dan menetapkan hal apa yang perlu dilakukan untuk memenuhi sasaran tersebut. Selain itu, manajer juga perlu menentukan dan memutuskan hal yang perlu dicapai dan diselesaikan.
2.      Memimpin setiap aktivitas perusahaan dan memastikan setiap hal tersebut telah dilaksanakan.
3.      Mengorganisasi setiap kegiatan yang berkaitan dengan perusahaan, termasuk menganalisis kegiatan, menggolong-golongkan pekerjaan, membagi pekerjaan, serta mengelompokkan unit dan tugas dalam struktur organisasi.
4.      Memastikan segala hal berjalan sebagaimana yang telah ditentukan sebelumnya sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
5.      Memberikan motivasi dan membangun komunikasi dengan bawahan sehingga dapat membentuk tim yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
6.      Melakukan pengukuran terhadap faktor-faktor untuk perusahaan atau untuk setiap orang dalam perusahaan.
7.      Mengembangkan sumber daya manusia termasuk dirinya sendiri. Seorang manajer harus mampu untuk membuat bawahannya berkembang dalam melakukan kerjanya. Selain itu, manajer juga harus mengembangkan dirinya sendiri dan terus belajar untuk kelangsungan hidup perusahaan.
8.      Menjalankan fungsi-fungsi manajemen dengan baik.
Fungsi Manajer
Menurut George R. Terry dalam Garnida dan Priansa (2013) menjelaskan bahwa setiap manajer menjalankan fungsi-fungsi manajer yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan juga pengawasan. Masing-masing fungsi tersebut diuraikan sebagai berikut
1.      Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan suatu proses penyusunan tentang apa yang harus dikerjakan, kapan dan siapa yang mengerjakannya untuk menentukan tindakan di masa yang akan datang. Perencanaan yang baik akan menghasilkan sebuah rumusan tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Dengan adanya rencana maka akan memudahkan manajer untuk mengambil keputusan dan juga manajer akan mengetahui cara mengorganisasikan sumber daya secara efektif.
2.      Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
Tujuan dari pengorganisasian adalah untuk mengelompokkan kegiatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang dimiliki agar rencana yang dilaksanakan dapat tercapai dengan cara efektif dan ekonomis. Dalam proses pengorganisasian, manajer perlu menyesuaiakan strategi yang telah disusun agar tujuan dari perusahaan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
3.      Fungsi Kepemimpinan (Leading)
Kepemimpinan merupakan suatu proses memengaruhi orang lain untuk bekerja demi tercapainya suatu tujuan tertentu. Pekerjaan yang berkaitan dengan kepemimpinan meliputi lima jenis kegiatan antara lain membuat dan mengambil keputusan, mengadakan komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan, memberikan semangat dan motivasi kepada bawahan agar mereka bertindak, menentukan dan memilih orang yang akan menjadi anggota kelompoknya, serta mengembangkan dan memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar lebih terampil sehingga memudahkan dalam mencapai tujuan.
4.      Fungsi Pengendalian (Controlling)
Pengendalian merupakan suatu proses sistematis untuk menetapkan standar prestasi dan sasaran perencanaan dalam bentuk pemantauan atau pemonitoran pelaksanaan suatu rencana dan memastikan rencana itu dikerjakan dengan baik atau tidak. Pengendalian juga bisa dikatakan sebagai suatu proses yang menjamin bahwa suatu tindakan telah dilaksanakan sesuai rencana.
Supervisor
Dalam struktur organisasi yang berlaku umum, jenjang hirarki supervisor berada di bawah manajer menengah dan di atas karyawan pelaksana (staf). J. C. Denyer dalam Chaniago (2013) menyatakan bahwa supervisor adalah seorang yang mengawasi pekerjaan dari orang lain serta yang mungkin menjadi bawahannya dari manajer kantor.
Supervisor merupakan anggota manajemen yang bekerja pada suatu tingkat organisasi dan bertugas untuk melakukan pengawasan atas tugas-tugas yang diserahkan kepada kelompok-kelompok kecil dengan tujuan untuk menjamin hasil kerja yang memuaskan.
Supervisor adalah orang yang berhubungan langsung dengan manajer. Namun dalam konteks tanggung jawab, supervisor mempunyai tugas yang tidak kalah berat. Dalam banyak kasus, supervisor memiliki tugas yang strategis karena langsung terjun di lapangan melaksanakan semua rencana dari manajer. Supervisor memiliki bawahan yang dalam struktur organisasi disebut karyawan non manajerial atau staf. 
Hal ini menyebabkan supervisor mempunyai kedudukan istimewa di dalam perusahaan. Bersama dengan para staf, supervisor menentukan selesai tidaknya pekerjaan (proyek) yang menjadi rencana strategis perusahaan. Ia mengetahui betul seluk-beluk pekerjaan yang harus selesai sesuai jadwal beserta dinamika yang ada di lapangan. Dalam hal ini supervisor harus menangani dua hal langsung yaitu tugas-tugas dari manajernya sekaligus mengelola anak buahnya supaya tetap dalam kondisi prima bekerja dan menjaga keutuhan tim.
Tugas Supervisor
Tugas seorang supervisor tidak jauh berbeda dengan tugas seorang manajer karena supervisor merupakan anggota manajemen dan juga sering disebut sebagai manajer tingkat bawah. Perbedaan tugas supervisor dan manajer hanya terletak pada ruang lingkup pekerjaannya. Supervisor bekerja pada ruang lingkup yang lebih kecil. Berikut ini merupakan penggolongan tugas supervisor berdasarkan fungsi manajemen.
1.      Berdasarkan perencanaan (Planning)
Suatu pengawasan yang efektif tentunya memerlukan perencanaan-perencanaan yang terus menerus., pekerjaan supervisor adalah sebagai berikut:
a.       Ikut serta dalam merumuskan dan menentukan tujuan dan rencana organisasi atau perusahaan.
b.      Mengerti dan mengetahui dengan jelas pekerjaan yang akan dilakukan.
c.       Mengetahui dan menafsirkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dibuat manajemen kepada pegawai.
d.      Mengikuti perkembangan informasi yang baru.

2.      Berdasarkan pengendalian (Controlling), pekerjaan supervisor adalah:
a.       Mengikuti praktek dan prosedur kerja sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan.
b.      Menilai hasil kerja dari sudut pandang biaya.
c.       Memeriksa ketelitian dan banyak pekerjaan
d.      Mengefektifkan penggunaan bahan-bahan dalam suatu pekerjaan.

3.      Dalam pengorganisasian (Organizing), pekerjaan supervisor adalah sebagai beriku:
a.       Mendelegasikan suatu pekerjaan kepada orang lain atau bawahan.
b.      Membagikan pekerjaan di antara anggota-anggota kesatuannya.
c.       Menentukan suatu hubungan yang layak di antara anggota kesatuannya.
4.      Dalam kepemimpinan (Leading), Beriku ini merupakan tugas-tugas dari supervisor:

a.       Memberikan informasi-informasi terbaru kepada pegawai.
b.      Melatih para bawahannya untuk patuh terhadap aturan.
c.       Memajukan sistem magang.
d.      Mendapatkan kerjasama dan penyesuaian di antara pegawai.
Kebutuhan Supervisor
Agar seorang supervisor dapat melaksanakan tugasnya dengan efektif, supervisor harus memiliki pengetahuan-pengetahuan tertentu dan juga mampu menjalankan tugas tertentu dengan baik. Berikut ini merupakan hal-hal yang harus dimiliki oleh seorang supervisor:
1.      Pengetahuan mengenai pekerjaan dan tanggung jawab
Meskipun supervisor tidak secara langsung mengerjakan suatu pekerjaan di lapangan, supervisor harus mengetahui dengan rinci tugas yang dilakukan oleh kelompok atau bagiannya untuk memberikan kepemimpinan kepada para bawahan yang melaksanakan tugas-tugas tersebut serta untuk merencanakan dan melakukan pengawasa agar dapat mencapai hasil pekerjaan yang baik dan teratur.
Selain pengetahuan tentang pekerjaan, supervisor juga harus mengetahui pengetahuan tentang tanggung jawab. Hal mengenai tanggung jawab ini berkaitan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan peraturan-peraturan perusahaan.
2.      Mampu memberikan instruksi
Salah satu tugas supervisor adalah memberikan instruksi kepada bawahannya. Pada umumnya pegawai akan lebih merasa puas jika diberikan arahan dan keterangan yang jelas tentang suatu pekerjaan. Untuk itu, seorang supervisor harus pandai memberikan instruksi kepada pegawai atau bawahannya agar diperoleh tenaga kerja yang terlatih dengan baik.
3.      Dapat memperbaiki metode
Penggunaan bahan-bahan, mesin, dan juga tenaga kerja yang baik merupakan tujuan yang tetap dari sebuah manajemen yang maju. Namun, semua hal tersebut dapat diperbaiki. Dengan memiliki kepandaian dalam menganalisis maka akan menghasilkan cara-cara yang efektif dan efisien dalam menjalankan suatu pekerjaan.
4.      Dapat bekerja dengan orang lain dengan baik
Selain bekerja dengan baik, bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain juga sangat penting bagi seorang supervisor karena banyak hal yang dicapai oleh supervisor merupakan hasil dari persetujuan orang lain. Selain itu, supervisor juga merupakan perantara antara pemimpin atau manajer dengan para pegawai. Pada umumnya, supervisor yang sukses adalah supervisor yang bisa mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan kelompok bekerjanya.
Kesimpulan
            Sebuah perusahaan yang dapat terus berkembang di tengah-tengah persaingan global tentunya memiliki manajemen yang baik. Dalam pelaksanaan manajemen yang efektif dan efisien tentunya peran sumber daya manusia sangatlah penting, antara lain adalah peran manajer dan supervisor.
            Agar sebuah perusahaan dapat memilih manajer dan supervisor yang tepat, maka perusahaan harus menentukan persyaratan apa saja yang dibutuhkan oleh manajer dan supervisor. Secara garis besar, manajer dan supervisor yang baik adalah yang memiliki keahlian manajerial yang meliputi conseptual skill, humanity skill, technical skill, serta strategic skill. Selain itu mereka juga tentu harus mengerti tugas-tugasnya dengan baik dan jelas.
Referensi
Chaniago, Harmon. 2013. Manajemen Kantor Kontemporer. Bandung: Akbar Limas Perkasa.
Priansa, Donni Juni dan Agus garnida. 2013. Manajemen Perkantoran. Bandung: Alfabeta.

Siswandi. 2011. Aplikasi Manajemen Perusahaan: Analisis Kasus dan Pemecahannya. Jakarta: Mitra Wacana Media.